Rabu, 04 Mei 2011

cerita kancil dan buaya

Suatu hari Si Kancil, binatang yang katanya
cerdik itu, sedang berjalan-jalan di pinggir
hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar,
melihat matahari yang cerah bersinar. Di
dalam hutan terlalu gelap, karena pohon-pohon
sangat lebat dan tajuknya menutupi lantai
hutan. Dia ingin berjemur di bawah terik
matahari.
Di situ ada sungai besar yang airnya dalam
sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil
merasa bahwa ada yang berbunyi di
perutnya,..krucuk …krucuk…krucuk. Wah,
rupanya perutnya sudah lapar. Dia
membayangkan betapa enaknya kalau ada
makanan kesukaannya, ketimun. Namun kebun
ketimun ada di seberang sungai, bagaimana
cara menyeberanginya ya? Dia berfikir sejenak.
Tiba-tiba dia meloncat kegirangan, dan
berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluar….. Aku
punya makanan untukmu…!!” Begitu Kancil
berteriak kepada buaya-buaya yang banyak
tinggal di sugai yang dalam itu.
Sekali lagi Kancil berteriak, “Buaya…buaya… ayo
keluar… mau daging segar nggak?”
Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari
dalam air, “Huaahhh… siapa yang teriak-teriak
siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.”
“Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan
nanti kamu.” Kata buaya kedua yang juga
muncul.
“Wah…. bagus kalian mau keluar, mana yang
lain?” kata Kancil kemudian. “Kalau cuma dua
ekor masih sisa banyak nanti makanan ini. Ayo
keluar semuaaa …!” Kancil berteriak lagi.
“Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,”
kata buaya.
“ Begini, maaf kalau aku mengganggu tidurmu,
tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-
buaya di sungai ini, ” makanya harus keluar
semua.
Mendengar bahwa mereka akan dibagikan
daging segar, buaya-buaya itu segera
memanggil teman-temannya untuk keluar
semua. “Hei, teman-teman semua, mau makan
gratis nggak? Ayo kita keluaaaar….!” buaya
pemimpin berteriak memberikan komando.
Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya
dari dalam air.
“Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada
berapa buaya yang datang, ayo kalian para
buaya pada baris berjajar hingga ke tepi sungai
di sebelah sana, ” “Nanti aku akan menghitung
satu persatu.”
Tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera
mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi
sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga
membentuk seperti jembatan.
“ Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,”
kata Kancil yang segera melompat ke punggung
buaya pertama, sambil berteriak, “Satu…..
dua….. tiga…..” begitu seterusnya sambil terus
meloncat dari punggung buaya satu ke buaya
lainnya. Hingga akhirnya dia sampai di seberang
sungai. Hatinya tertawa, “Mudah sekali
ternyata.”
Begitu sampai di seberang sungai, Kancil
berkata pada buaya, “Hai buaya bodoh,
sebetulnya tidak ada daging segar yang akan
aku bagikan. Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak
membawa sepotong daging pun ?” “Sebenarnya
aku hanya ingin menyeberang sungai ini, dan
aku butuh jembatan untuk lewat. Kalau begitu
saya ucapkan terima kasih pada kalian, dan
mohon maaf kalau aku mengerjai kalian, ” kata
Kancil.
“Ha!….huaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata
kita cuma dibohongi. Awas kamu ya.. kalau
ketemu lagi saya makan kamu, ” kata buaya-
buaya itu geram.
Si Kancil segera berlari menghilang di balik
pohon, menuju kebun Pak Tani untuk mencari
ketimun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar